Gagasan tersebut menjadi benih bagi cerita sukses Gojek, yang diluncurkan pada 2010 sebagai call center kecil dengan hanya 20 pengemudi. Apa yang awalnya terlihat sederhana berkembang menjadi platform yang mengubah bukan hanya transportasi tetapi juga pembayaran digital dan kehidupan sehari‑hari masyarakat Indonesia, menjadikannya salah satu Business Titans paling berpengaruh di negaranya.
Lahir di Singapura pada tahun 1984 dan besar di Jakarta, Nadiem Makarim sejak awal terpapar pada perspektif global sekaligus tantangan unik kota besar Indonesia. Setelah menempuh pendidikan di Jakarta dan Singapura, ia melanjutkan studi di Amerika Serikat dan berhasil meraih gelar MBA dari Harvard Business School. Pengalaman internasional ini memperluas wawasannya, tetapi semangatnya untuk kembali berkontribusi ke tanah air tetap kuat. Kariernya mencakup posisi prestisius di McKinsey & Company, tempat ia memperoleh pandangan strategis industri, serta di Zalora, tempat ia mengasah kemampuan operasional dan e‑commerce. Namun di balik semua itu, Nadiem selalu menyimpan tekad untuk menyelesaikan masalah sehari‑hari masyarakat Indonesia. Perpaduan paparan internasional dan empati lokal inilah yang akhirnya membentuknya sebagai salah satu Business Titans Asia Tenggara.
Satu masalah yang sangat menarik perhatiannya adalah kemacetan Jakarta dan ketergantungan pada ojek motor informal sebagai cara tercepat untuk bergerak. Ia melihat sektor ini penuh dengan ketidakpastian harga, keamanan, dan kepastian layanan, sementara para pengemudi tidak memiliki kepastian pendapatan. Nadiem membayangkan cara untuk menata ulang kekacauan ini dengan teknologi. Gagasan tersebut menjadi benih bagi cerita sukses Gojek, yang diluncurkan pada 2010 sebagai call center kecil dengan hanya 20 pengemudi. Apa yang awalnya terlihat sederhana berkembang menjadi platform yang mengubah bukan hanya transportasi tetapi juga pembayaran digital dan kehidupan sehari‑hari masyarakat Indonesia, menjadikannya salah satu Business Titans paling berpengaruh di negaranya.
Meskipun idenya lahir dari pengamatan sederhana, peluncuran Gojek jauh dari kesan glamor. Pada 2010, Gojek hanya beroperasi sebagai call center kecil yang menghubungkan pelanggan dengan 20 pengemudi ojek. Belum ada aplikasi, belum ada pembayaran tanpa tunai, belum ada visi super app—hanya layanan sederhana untuk membuat perjalanan lebih dapat diandalkan. Nadiem bekerja keras membangun kepercayaan dengan pengemudi dan pelanggan, meyakin